Launching Film dan Novel Ramlie oi Ramlie, Pacu Ekonomi Kreatif Dan Angkat Budaya Melayu

KritisNews.com, Batam – Kru Film dan Novel Ramlie oi Ramlie menggelar Launching dan syukuran yang diselenggarakan di gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Batam, Sabtu (14/7/2018).

Je Yatmoko, selaku produser film Ramlie oi Ramlie dalam sambutannya mengatakan sangat berterima kasih kepada seluruh undangan yang hadir dalam acara tersebut. Dia berharap launching buku ini bisa membawa dampak positif bagi ekonomi kreatif di Batam kedepannya.

“Film Ramlie oii Ramlie ini kita angkat dari novel karya Yanis Alfata, film ini banyak menceritakan tentang budaya melayu yang sekarang mulai banyak dilupakan generasi muda,”katanya.

Dia berharap dengan film ini generasi muda bisa mengetahui beberapa budaya melayu yang mulai hilang dan memiliki niat untuk melestarikan budaya asli melayu Kepulauan Riau itu.

Selain itu, Hardi Selamat Hood anggota DPRD Provinsi Kepri yang juga ikut andil dalam project film Ramlie oi Ramlie mengatakan sosok Pie Ramlie yang menjadi cikal bakal film Ramlie oii Ramlie ini besar dengan segala kekurangan dan keterbatasannya. Namun Pie Ramlie tidak mudah menyerah dan selalu optimis dengan hasil yang ia kerjakan.

“Malam ini kita juga mulai dari kesulitan, modal nekat untuk bisa berkarya, tetapi kita juga harus optimis dengan apa yang kita lakukan, maka film Ramlie oi Ramlie tidak bisa dipungkiri akan menjadi film yang perlu diperhitungkan dan menjadi awal kebangkitan film melayu,”ungkap Hardi Hood.

Sementara itu, Yanis Alfata, selaku penulis Ramlie oi Ramlie mengatakan jika isi dalam novel itu sebagian besar menceritakan tentang budaya melayu yang kini mulai hilang. Sebagai penduduk Jawa yang sudah lama menetap di Batam, dia tergerak juga untuk ikut melestarikan budaya melayu dengan tulisannya.

“Karena kita hidup ditanah melayu, maka budaya melayu perlu dikembangkan dan dilestarikan,”kata Yanis.

Dalam novel tersebut Yanis memunculkan salah satu tarian yang sudah sangat jarang diminati anak zaman sekarang, yaitu tarian Makyong. ” lewat novel yang akan di film kan ini, kita akan kembali melihat tarian budaya itu, dan semoga tulisan yang akan di visualkan ini akan menumbuhkan rasa peduli anak muda tentang budaya melayu,”Paparnya

Dalam novel yang ia tulis, 65 persen merupakan muatan budaya melayu,
20 persen komedi dan 15 persen duka. (RD2)

News Feed